Corsek Bank BNI, Ryan Kiryanto: Gejolak Ekonomi Global 2019, Berpengaruh pada Bisnis UKM

0
75172
Corporate Secretary BNI Ryan Kiryanto (pegang mik). Foto: Atoen

JOBSMEDIANET.COM, JAKARTA – Ekonomi global pada 2019, masih bergejolak yang dampaknya mempengaruhi negara berkembang, seperti Indonesia dan lainnya. Sementara  tahun itu, perekonomian Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan tetap kuat, sedangkan  ekonomi negara-negara emerging market atau pasar negara berkembang dan Eropa, diperkirakan tumbuh lebihnya rendah dari perkiraan awal.

Corporate Secretary BNI Ryan Kiryanto, dalam diskusi panel bertajuk “Proyeksi perekonomian, Peluang dan Tantangan bagi UKM”, di Auditorium Kementerian Koperasi dan UKM, mengatakan, gejolak ekonomi global ini berpotensi terkena pada Usaha Kecil Menengah (UKM) Indonesia. Sebab jika ekonomi dunia sedikit melemah, maka dampaknya ke korporasi skala besar. Selain itu, dampak selanjutnya akan merembet pada korporasi kelas menengah seperti UKM.

Disebutkan, saat terjadi krisis moneter pada 1998 UKM dapat bertahan sebab tidak menggunakan valuta asing (valas) sehingga tidak terpengaruh gejolak ekonomi global.

“Pada 1998 UKM bagus waktu krismon (krisis moneter) kelompok UKM relatif tidak tersentuh nilai tukar, mereka tidak minjam valas, maka mereka terisolasi dari gejolak global,” ucapnya.

Gejolak ekonomi global ini bila dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III 2018 , kata Ryan, diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi yang didorong oleh permintaan domestik. Namun, pertumbuhan itu lebih rendah dari perkiraan semula yang diakibatkan penurunan ekspor netto.

Menurut Ryan, kuatnya permintaan domestik mendorong impor. Impor tumbuh tinggi, sejalan dengan permintaan domestik, meskipun pertumbuhan impor bulanan telah menunjukkan perlambatan.

“Sebaliknya, pertumbuhan ekspor lebih terbatas disebabkan kinerja ekspor komoditas andalan, seperti hasil pertanian dan pertambangan yang tidak sekuat perkiraan,” ujarnya.

Diketahui lanjutnya, saat terjadi krisis moneter pada 1998 UKM dapat bertahan sebab tidak menggunakan valuta asing (valas) sehingga tidak terpengaruh gejolak ekonomi global.

Artinya, 1998 UKM bagus waktu karena saat krisis moneter, kelompok UKM relatif tidak tersentuh nilai tukar. Hal ini karena mereka tidak minjam valas, maka mereka terisolasi dari gejolak global.

Bicara tentang inflasi dan neraca perdagangan, menurut Ryan, September lalu mencatat surplus 0,23 miliar dolar AS, membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang defisit 0,94 miliar dolar AS. Perbaikan tersebut ditopang oleh surplus neraca perdagangan nonmigas, yang meningkat dan defisit neraca perdagangan migas yang menurun.

“Secara kumulatif, neraca perdagangan mencatat defisit 3,78 miliar dolar AS,” ungkap Ryan, seraya memprediksi  suku bunga acuan BI 7 day reverse repo rate (7 DRRR) diperkirakan akan naik 25 basis poin atau 0,25 persen pada akhir tahun ini.

Kenaikan ini, kata Ryan, untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed.Bunga acuan BI 7 DRR rate naik pada Desember 2018 untuk mengantisipasi kenaikan Fed Fund Rate. Kenaikan bunga The Fed ini, akan didorong oleh meningkatnya inflasi di AS. Sebagai informasi, saat ini inflasi di AS mencapai  dua persen.

Angka inflasi ini cukup krusial bagi negara sebesar AS. Oleh karena itu, diperkirakan The Fed akan berusaha menjinakkan inflasi ini dengan menaikkan suku bunga.

Dalam hal ini, Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral negara berkembang, jelas Ryan, sebaiknya menyesuaikan suku bunga acuannya pada akhir tahun. Hal ini agar risiko usaha dan nilai tukar tidak mengalami tekanan yang berlanjut.

Hadir juga pembicara lainnya Kepala Biro Perencanaan Kementerian Koperasi dan UKM Ahmad Zabadi dan Business Development & Sales Officer Du’Anyam Juan Firmansyah.

Penulis/Editor: atoen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here