PMI SUKSES ASAL KEDIRI, PESANYA : JANGAN JADI PEKERJA ILEGAL!, PASTI SENGSARA ( tamat )

0
883
Saat bekerja di pabrik di Taiwan. Uang hasil kerjanya dijadikan modal usaha.

Oleh : ERWAN MAYULU

MELENGKAPI kisah suksesnya sebagai pekerja migran di luar negeri secara prosedural, pengalamanan Andik Murai Kediri ketika jadi pekerja illegal tanpa dokumen bekerja di Malaysia, rasanya perlu diangkat untuk menjadi pelajaran dan cermin bagi pencari kerja yang ingin bekerja di luar negeri. Kisah ini sebagai iktibar bahwa bekerja di luar negeri tanpa kompetensi, tanpa dokumen dan hanya modal tekad dan nekat,   sengsara yang akan didapat!.

 

Pengalamannya sebagai pekerja di luar negeri lumayan panjang. Mula- mula jadi tenaga kerja (TKI) ilegal atau jadi “pendatang haram” di negeri Jiran, Malaysia pada 2003. Dirasakannya, sungguh pahit dan tak tenang menjadi pekerja illegal. Karena bekerja secara illegal, maka upah yang diterima dibawah standard meski sudah bekerja keras. Meski hidup bak main ‘peta empet’ , akhirnya ketangkap juga. Saat berbelanja ke pasar, temannya dari Banglades ke tangkap polisi dan akhirnya dia dan sejumlah temannya ikut ditangkap dan sempat merasakan dinginnya sel polisi dan deraan cambukan rotan di penjara sebelum di deportasi ke Batam.

 

Sebagaiama alasan umum para anak bangsa yang berjuang di negeri orang, menghidupi ekonomi keluarga, adalah sulitnya mencari kerja di dalam negeri sementara tuntutan ekonomi mengharuskan dapur ngebul, maka seorang Hadi Mustangin memutuskan mencari nafkah di negeri jiran, Malaysia, mengingukti jejak kerabatnya yang telah lebih dulu bekerja di Malaysia.

Bersama sesama PMI di Taiwan berkumpul di warung Indonesia.Dari sini dia muali dikenal dengan sapaan Andik atau Andi

CALO, MENJADIKANNYA PEKERJA ILEGAL

Baru menikah dan memiliki satu anak dia memutuskan bekerja di Malaysia pada 1997. Bukannya dia tidak punya penghasilan. Sejak menikahi Yanti Krisna Wuryansari ( kini, 39 tahun), pada awal 1997 dia telah merintis usaha berjualan cabe . Sebenarnya usaha ini berjalan lancar namun hasilnya dirasakan tidak cukup.

Dia putuskan untuk bekerja di luar negeri. Malaysia jadi pilihannya. Pertimbangannya sederhana, sudah ada bibinya di negeri itu, jadi TKW. Untuk bekerja di bidang apa dan apa keahliannya, tidak jadi jadi pertimbangan. Modalnya,hanya keinginan yang kuat dan informasi bahwa Malaysia membutuhkan banyak pekerja dari Indonesia.

 

Maka dia hubungi bibinya dan menanyakan seluk beluk bisa berangkat ke Malaysia. Sang bibi menuntunya untuk menghubungi seseorang di Kediri. Belakangan orang ini dikenal sebagai calo TKI yang bisa memberi jalan orang bekerja di Malaysia. Hadi hanya disuruh bikin paspor umum dan diajak ke Batam dan naik feri nyberang ke Johor.

 

Dia sempat bertanya pada sang calo, kenapa tidak lewat jalur resmi. Sang calo meyakinkan, jalur ini lebih cepat untuk mendapatkan pekerjaan di Malaysia dan dia jamin langsung bisa bekerja di kilang. “Soal visa kerja, nanti akan diurus dan akan diperoleh di Malaysia”, ujar sang calo.

 

Akhir 1997 itulah awal dari perjalanan hidupnya bekerja di Malaysia secara illegal. Lewat perantaraan bibinya, Hadi langsung diterima dan bekerja di perusahaan karoseri bus di Johor. Pabrik (kilang ) ini menerima pekerja asal Indonesia bukan didasarkan keahlian pekerja. Hadi yang hanya tamatan SLTA umum, disuruh bekerja di bagian las.

Pekerjaan yang tidak pernah dia lakukan. Diberi arahan dan petunjuk secara singkat mengenai peralatan dan tata cara mengoperasikannya, maka jadilah dia tukang las di perusahaan karoseri bus itu.

 

Visa kerja yang dijannjikan calo akan didapatkan saat bekerja di Malaysia,ternyata tak pernah didapatkannya. Maka jadilah dia jadi pekerja illegal.

 

Sebagai pekerja gelap dan unskill serta minim pengalaman, Hadi pun diberi upah rendah , hanya sekitar 20 ringgit per bulannya pada tiga bulan pertama bekerja. Setelah itu upahnya dinaikan jadi 30 ringgit per bulan. Demi mengejar ringgit lebih banyak, dia selalu mengambil kerja lembur.

Ringgit hasil kerjanya sebagian besar dititipkannya pada bibinya. Dia hanya mengambil sedikit untuk biaya keperluan pribadi. Sebagian besar keperluan telah ditanggung oleh perusahaan. Tinggal di mess pekerja dan makan tiga kali sehari disediakan oleh perusahaan.

Hadi alias Andi Murai tetap meneruskan toko alat listrik dan suku cadang sepea motor yang dijalankan istrinya Yanti Krisna Wuryansari (39 tahun)

DITANGKAP DAN DIPORTASI

 

Sebagai orang bekerja secara gelap yang disebut penduduk setempat sebagai “pendatang haram”, maka hidupnya tidak tenang bepergian di Johor. Jika keluar dari mess untuk ke pasar misalnya, mereka selalu berjalan bersama. Tidak berani jalan sendiri.

 

Suatu ketika, saat berjalan berombangan di pasar, seorang pekerja dari Banglades dicuragai polisi sebagai bagian dari pendatang haram. Saat ditangkap dan diperiksa, pekerja ini bisa mnunjukan dokumen keimigrasian. Dia pun menunjuk dan memberi tahu polisi itu bahwa pekerja asal Indonesia yang jalan bersamanya, juga tidak berdokumen.

 

Hadi dan tiga kawannya akhirnya digelandang ke kantor polisi. Sialnya, saat itu mereka tidak bawa paspor. Komunikasi dengan perusahaan dan bibinya juga tidak bisa dilalukan.

Akibatnya, paspor yang disimpan di perusahaan tidak ada yang mengantar. Anehnya, tidak ada petugas kantor polisi yang menghubungi atau mendatangi perusahaan itu untuk menginvestigasi atau setidaknya melakukan konfirmasi apakah benar mereka itu bekerja di perusahaan tersebut.

 

Selama tiga hari di tahan polisi dan selama itu pula tidak bisa tunjukan paspor. Tindakan berikutkanya dilakukan polisi adalah mengirim mereka ke penjara setempat.

 

Dari penjara ini mereka selanjutnya diusir dari Malaysia setelah sebelumnya digunduli. Mereka dipaksa keluar Johor dengan naik kapal tongkang ke Tanjung Sama, Riau.

Perjalanan naik tongkang,menjadi pengalaman menegangkan. Ombaknya cukup besar hingga airnya masuk ke kapal. Terdapat 30 orang TKI illegal yang diangkut tongkang. Mereka pasrah menghadapi gelombang laut namun akhirnya selamat merapat di pelabuhan Tanjung Sama, Kepulauan Riau.

 

Setibanya   di Tanjung Sama, bukan merupakan akhir dari pengalaman pahit sebagai pekerja ilegal di negeri orang. Hadi Mustangin dan 29 orang temannya lainya, sempat mengelandang. Mereka semuanya tidak memiliki uang satu rupiah pun.

 

Beruntung, dia dan tiga PMI asal Jember dan Lamongan, ditawari pekerjaan oleh seseorang membabat hutan yang akan dijadikan kebun kelapa sawit. Tawaran upah Rp 1 juta selama satu bulan, mereka langsung terima.

Soal kecilnya upah dan tak sebanding dengan beratnya dan panjang waktu pekerjaan, tidak jadi pertimbangkan lagi. Mereka hanya pikirkan, bisa bertahan hidup dengan jaminan bisa makanan dan mendapatkan uang untuk ongkos bus pulang ke kampong halaman di Jawa.

 

Selama membabat alas hutan itu, pemilik kebun mensuplai bahan makanan berupa beras, cabe kering, mie. Upah itu mereka bagi berempat dan dibelikan tiket bus ke Jakarta.

Dari Rp 250.000 upah itu, dibelikan tiket bus Rp 150.000 per orang. Sialnya, sisa uang Rp 100 ribu per orang, dipalak preman sebelum mereka masuk bus jurusan Jakarta. Untungya, seorang temannya sempat menyembuyikan uang di mulutnya. Uang itulah yang mereka gunakan beli makanan sepanjang perjalanan ke Jakarta.

 

Setibanya di Jakarta ada seseorang yang memperhatikan dan iba pada mereka dan membelikan tiket bus ke Nganjuk. Selama perjalanan sehari semalam mereka tidak makan.

Setibanya di terminan bus Nganjuk, dia melanjutkan perjalanan ke Kediri dan tiga temannya tetap bertahan di terminal.

Haru biru mewarnai pertemuannya dengan orang tuanya. Sebab sejak di tangkap di Malaysia, mereka putus kontak dengan keluarga di Kediri dan bibinya di Malaysia.

 

Setelah minta ongkos bayar ojek dan makan seperlunya, Hadi minta lagi uang ke orang tuannya untuk bakal ongkos tiga temannya ke kampungnya masing – masing. Itulah pertemuan terakhir dengan ketiga rekannya itu dan hingga hingga ini putus hubungan.

Dan, itulah sekaligus akhir petualangannya jadi PMI illegal di Malaysia. Hadi kapok luar biasa.

Pesanya, jangan pernah jadi pekerja illegal di Malaysia atau negeri orang. Sengsara yang akan di dapat!.

 

Ada dua hal yang disukurinya dibalik pengalaman pahitnya jadi pekerja gelap di negeri orang ini.

Pertama, dia selamat dari amukan ombak ganas di laut. Kisah pedih sejumlah kapal tenggelam dan menewaskan TKI sudah banyak diberitakan media.

Kedua yang disukurinya, upah bulanan yang diperolehnya di titipkan ke bibinya. Andai uang hasil kerja kerasnya itu di bawanya, dipastikan amblas semuanya di rampok di tengah laut oleh anak buah kapal tongkang. Saat berada di atas kapal tongkang, ABK meminta paksa uang dan jika tidak diberi, mereka diancam akan diturunkan di pulau – pulau kosong yang tak berpenghuni.

Uang hasil kerjanya yang kemudian dikirimkan bibinya ke Kediri dijadikannya modal untuk membuka usaha jualan cabe dan peralatan listrik. ***

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here